PoJok CeRia

Story

CEO Speaks : “Leadership & Entrepreneurship dalam menghadapi krisis ekonomi global” Speaker : Chairul Tanjung

by tile on Jan.27, 2009, under Story

Hari Selasa lalu, tanggal 20 Januari 2009 gw menghadiri acara CEO Speaks di JWC (Joseph Wibowo Center, Kampusnya Binus Business School-red) di Hang Lekir. Binus Business School (BBS) rutin mengadakan acara ini, paling tidak 1 bulan sekali. Klo kata mereka sih, acara ini sebagai salah satu wujud Corporate Social Responsibility, maka dari itu acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya, alias gratis. Di acara ini BBS mengundang para pemimpim perusahaan (CEO) untuk menjadi narasumber. Sehingga mereka dapat mentransfer ilmu mereka di dalam memimpim organisasi atau perusahaan. Dan bagi gw, acara ini sangat menarik, karena banyak ilmu yang dapat gw petik.

(continue reading…)

Share/Save/Bookmark

2 Comments :, , , , , , , more...

Ganti Ban Mobil

by tile on Jan.19, 2009, under Story

Semalam sekitar pukul 12 tengah malam, ketika sedang melintasi jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, sayup2 terdengar suara yang aneh di luar. Kira2 seperti suara petasan, tapi petasan yang sudah masuk angin, mendem gitu deh. Dalam hati, aneh jg main petasan jam segini. Tapi yang lebih aneh lagi, ko sepertinya bunyinya ngikutin mobil, gk hilang2. Pas melihat ke luar, eh ternyata ban belakang sebelah kanan kempes.

(continue reading…)

Share/Save/Bookmark

1 Comment :, , more...

Pantang Pulang Sebelum Padam

by tile on Jan.19, 2009, under Story

Luar biasa, hanya itu kata-kata yang bisa terucap untuk menggambarkan perjuangan para petugas pemadam kebakaran dalam memadamkan kebakaran di Depot Pertamina Plumpang, Jakarta Utara. Tanpa mengenal lelah mereka berusaha memadamkan api mulai dari sekitar pukul 9, minggu malam, sampai sekitar pukul tujuh, senin pagi.
(continue reading…)

Share/Save/Bookmark

1 Comment :, , , more...

Perempuan Berkalung Sorban

by tile on Jan.13, 2009, under Story

Semalam gw nonton premier film Perempuan Berkalung Sorban. Ada teman yang nawarin untuk nonton, dan karena judulnya menarik, gw sambut lah tawaran itu dengan sukacita. Hohoho, kapan lagi nonton gratis, premier pula. Menurut undangan Film akan diputar di Planet Hollywood, pkl 21.00 WIB, tapi harus sampe sana sebelum film dimulai. Alhamdulillah bisa sampai disana sekitar pukul 8.00, meski jalanan sangat macet (it’s monday and still raining in the evening, so you can imagine the combination).

Pas gw masuk ke PH, emang ud rame orang2, ada wartawan, produser, dan beberapa artis pendukung di lantai bawah. Karena tujuan gw bukan wawancara / foto bareng, ya langsung ke bioskop di lantai 2 aj deh, disana kan ada bangku buat duduk, gitu pikir gw. Gw telp temen gw tadi yang ngajak nonton, ternyata dia ambil ATM dlu (hebat nih orang, dmana2 orang tuh ambil uangnya aj, gk perlu ATMnya jg). Gk berapa lama dia dateng jg, dan berkata ud boleh masuk ke dalam studionya.

Di dalam studio suasana ud gelap (mati lampu kali ya? Tapi g mungkin ah), oh ternyata film sudah di mulai, dan kami pun harus duduk di kursi barisan terdepan. Ada sedikit bagian di awal yang kami lewati, namun tidak terlalu masalah, dengan menonton lanjutan ceritanya, sudah bisa ditebak apa yang terjadi di awal cerita tadi. Setelah duduk, gw pun dengan khidmat mengikuti jalan cerita.

Sutradara film iniadalah Hanung Bramantyo, yang jg menyutradarai Ayat-Ayat Cinta. Tampaknya mas Hanung mo serius di film2 yang bernuansa religi ya, sesuai pesan ibundanya. Sedangkan pemain2nya adalah Revalina S. Temat sebagai Annisa, tokoh utama di film ini. Kemudian ada Oka Antara sebagai Khudori yang menjadi paman sekaligus penolong buat Annisa.

Cerita ini diangkat dari novel yang berjudul sama karya Abidah el Khalieqy. Gw blm baca novelnya, jadi yang bisa dikomentari hanya dari yang gw liat di film ini. Judul film ini sangat menarik, “Perempuan Berkalung Sorban”, posternya pun menarik. Yang terkesan dari poster dan judulnya adalah seorang perempuan yang sangat berani, bahkan cover novelnya adalah perempuan yang sedang menunggang kuda. Setting waktu film ini adalah tahun 90an, dan secara garis besar cerita ini mengangkat tema ttg ketidakadilan yang dialami oleh sebagian perempuan di lingkungan pesantren di Jawa Timur.

Annisa seorang putri Kyai pimpinan pesantren Al Huda adalah seorang gadis yang merasa diperlakukan tidak adil di lingkungan pesantren tersebut, namun tidak ada orang yang membelanya kecuali pamannya, Khudori. Dan diam2 ternyata Annisa pun menaruh hati kepada Khudori. Namun cinta tak berbalas karena Khudori merasa dirinya tak pantas buat Annisa, karena bukan anak seorang Kyai dan alasan lainnya. Khudori pun pergi belajar ke Mesir.

Annisa memiliki keinginan yang kuat untuk kuliah di Jogja, namun ayahnya lebih ingin anaknya itu untuk
menikah. Karena setelah menikah pun Annisa dapat kuliah, itulah alasan sang Ayah. Annisa pun dijodohkan dengan Samsudin (Reza Rahadian) putra Kyai Pesantren yang selama ini selalu membantu Al Huda. Ternyata Sam memiliki tabiat yang tidak baik, sangat jauh dari pandangan orang ttg anak seorang kyai. Ia sering berlaku kasar thp Annisa, dan ternyata dia pun menghamili perempuan lain yang bernama Kalsum (Francine Rosanda). Moment ini dianggap saat yang tepat bagi Annisa untuk meminta cerai, karena sudah tidak tahan dengan perlakuan Sam. Namun, bukan status janda yang diperoleh dia, melainkan gelar “istri pertama”. Bagi Annisa inilah puncak penderitaan dan keputusaannya.

Usia ayah Annisa semakin tua, dan sering sakit-sakitan. Disaat inilah Annisa bisa pulang ke Al Huda, untuk menjenguk bapaknya dan sejenak terbebas dari belenggu Sam. Di pesantren inilah Annisa bertemu kembali dengan Khudori yang telah pulang dari Mesir. Annisa seperti mendapat harapan baru. Pada suatu kesempatan, mereka berbicara. Annisa menggambarkan kepedihannya sebagai istri Sam, dan meminta Khudori untuk membawanya pergi. Namun Khudori pun menenangkannya, dan membujuknya untuk mencari jalan yang lebih baik.

Namun malang, disaat itulah mereka digrebek Sam. Penghuni pesantren pun berdatangan. Sam mengatakan bahwa mereka telah berzina, dan hukumannya adalah rajam, dan saat itu pula dia menceraikan Annisa. Pada saat orang-orang mulai melempari mereka, Ibunda Annisa pun maju, dan berkata “hanya yang tidak berdosa saja yang boleh melempar”. Spontan tak ada seorang pun yang berani melempar. Namun, saat itupula Ayah Annisa meninggal dunia. Setelah itu, Annisa pergi ke Jogja, sedangkan Khudori tak tau pergi kemana.

Di Jogja ini Annisa seperti mendapat kehidupan baru, meskipun ia menyadari ternyata kehidupan Jogja tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Ia mulai kuliah lagi, dan mempunya hobi baru, membaca dan menulis. Dia pun bekerja di lembaga advokasi perempuan, yang membela perempuan-perempuan yang diperlakukan tidak sepantasnya dalam keluarga. Di kota ini pula dia bertemu kembali dengan Khudori, ternyata benih2 cinta masih membekas di hati mereka. Mereka pun menikah.

Annisa yang telah hamil diminta dokter untuk beristirahat dan harus ada orang yang menjaganya. Ia disarankan untuk pulang ke Al Huda. Namun Annisa bersikeras untuk tidak kembali kesana. Akan tetapi karena memikirkan kondisi bayi mereka, Annisa pun melunak. Al Huda saat ini telah dipimpin oleh Abangnya Annisa dan kondisi pesantren tidak jauh berbeda dengan dulu. Pada saat inilah Annisa mulai mengenalkan dan membagi-bagikan buku2 yang dia miliki dari Jogja, namun dianggap tidak layak dibaca di lingkungan pesantren. Semakin lama, semakin banyak santriwati yang ingin membaca buku2 Annisa. Namun disinilah konflik terjadi, dmana pengurus pesantren tidak setuju buku-buku tersebut beredar di pesantren.

Akhirnya Annisa melahirkan anaknya di pesantren ini. Dan dalam suatu kesempatan, ia bertemu kembali dengan Sam, mantan suaminya. Ternyata Al Huda memiliki hutang dengan Sam, dan ia ingin menagihnya. Setelah pertemuan ini pula Sam ingin menikahi Annisa kembali, dan tentu saja dia menolaknya. Tampaknya Sam tidak terima diperlakukan seperti ini, bahkan ia pun menabrak Khudori yang sedang menaiki motor untuk membeli tiket ke Jogja hingga tewas. Setelah kepergian Khudori, Annisa seperti kehilangan pelindung hidupnya, apalagi konfliknya dengan abangnya semakin memanas.

Annisa pun menitipkan anaknya yang sudah berusia sekitar 4 tahun kepada ibunya, dia pun kembali ke Jogja. Pada saat dia di Jogja ini, para santriwati di razia, dan pada akhirnya semua buku2 “terlarang” itu dibakar. Karena itupula beberapa santriwati kabur dari pesantren dan pergi ke Jogja. Annisa pun ditelp oleh pesantren untuk membawa mereka pulang. Annisa menemukan mereka, dan membawa mereka kembali ke Al Huda. Ia pun bertekad untuk ttp di pesantren, untuk membawa perubahan di pesantren ini. Yang akhirnya, pihak pesantren pun melunak dengan sikap Annisa, dan ia dapat membuka perpustakaan modern di Al Huda.

Film ini cukup menarik, bahkan dari judulnya saja sudah mengundang rasa ingin tahu, seperti apa film ini.
Namun ada beberapa hal yang menurut Gw sebagai kekurangan di film ini. Beberapa adegan Gw rasa terlalu vulgar, terutama adegan ttg hubungan antara suami istri dan pada saat Sam menabrak Khudori, terlalu sadis menurut Gw, karena Khudori digambarkan sampai mental. Seperti tanpa adegan mental itu, penonton pun tau klo Khudori tertabrak. Beberapa adegan yang berlebihan dan tak perlu misalnya, pada saat Khudori di Mesir dan membaca surat dari Annisa ttg pernikahan dia. Di adegan itu Khudori digambarkan berada di dalam kamar flat/kostnya, dan latar belakang yang tampak dari jendela belakangnnya adalah piramid. Meski Gw blm pernah ke mesir, sepertinya tidak ada flat/kost mahasiswa (mungkin mahasiswa Al Azhar) yang memiliki view piramid. Dan kembali masih saja ada adegan mayat ketika tahlilan.

Itu dari segi film yang bisa Gw komentari, sedangkan dari segi cerita menurut Gw film ini tidak cocok untuk semua orang. Pertama adalah bagi anak-anak, karena bnyk adegan vulgar tentunya. Dan mungkin bagi orang awam, orang yang blm terlalu paham tentang Islam. Kenapa gw bilang begitu, karena tema film ini religi, dan suasananya adalah pesantren. Sedangkan di film ini ditampilkan perempuan yang diperlakukan tidak adil oleh pria yang ada di sekitarnya, perempuan yang dianggap hanya untuk melahirkan dan melayani suami. Dan dalam film ini, tokoh-tokohnya seperti punya dalil-dalil agama untuk pembenaran tindakan mereka. Hal ini lah yang gw khawatirkan, mungkin bagi sebagian orang ini bisa jadi pembenaran tindakan mereka, dan bagi sebagian lagi bisa jadi pertanyaan bagi mereka, seperti inikah Islam?

Meskipun dalil-dalil yang dipake itu memang ada, namun gw yakin itu baru sepotong-sepotong saja. Ini jadi penggerak bagi gw untuk mempelajari lagi Islam. Supaya gw punya jawaban atas pertanyaan yang datang ke gw. Lagipula menurut gw, ketidakadilan terhadap perempuan yang terjadi di film ini bukan karena Islam, namun lebih karena budaya patrilineal yang sangat kuat di masyarakat. Budaya yang sudah ada bahkan sebelum Islam masuk Nusantara, yang tidak lekang dimakan zaman. Mengapa gw bilang demikian, karena di Aceh yang kuat Islamnya, pada waktu dl ada kerajaan yang dipimpin oleh seorang perempuan.

Terlepas dari semua kekurangan, film ini layak untuk ditonton. Untuk membuka mata tentang apa yang terjadi. Untuk menggugah semangat kita untuk belajar Islam lebih dalam lagi. Dan memberi petunjuk menjadi seorang suami atau istri yang baik. Untuk itu film ini saya kasih 3 dari 5 bintang ***

Disclaimer :

Tulisan diatas hanya bentuk opini pribadi. Tidak ada hal-hal yang bermaksud untuk menyinggung tentang SARA.

Sumber gambar : http://www.21cineplex.com/images/film/film20041b.jpg

Share/Save/Bookmark

2 Comments :, , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Visit our friends!

A few highly recommended friends...

Archives

All entries, chronologically...